Si Kecil Ketahuan “Mencuri” Bagian 2

? Kenalkan konsep “Ini Milikku, Ini Miliknya”.

originals.id – Berikan pemahaman pada anak perbedaan antara “ini milik kamu” dan “ini milik saya.” Ketika anak dibelikan mobil-mobilan baru, jelaskan bahwa itu miliknya dan ia harus merawat, memelihara, dan memainkannya dengan baik. Sebaliknya, saat melihat anak mengambil mobil-mobilan temannya, katakan bahwa itu bukan miliknya dan ajari ia untuk mengembalikan. Lambat laun anak akan memahami benda-benda mana yang memang miliknya dan mana yang bukan. Miliknya boleh dimainkan sepuasnya, sementara yang bukan perlu dikembalikan jika meminjamnya.

? Biasakan meminta Izin.

Anak perlu tahu bahwa ia harus meminta izin sebelum meminjam benda milik temannya. Berikan juga pengertian bahwa dengan meminjam berarti ia harus bertanggung jawab dengan menjaga mainan agar tidak rusak. Dengan meminjam pun berarti ia harus mengembalikan barang itu pada si teman.

? Mencukupi kebutuhan anak.

Sedapat mungkin beri anak fasilitas, seperti mainan, alat tulis, aksesori, dan sebagainya. Tidak harus yang mahal, namun anak terpuaskan. Jika kebutuhannya terpenuhi, anak tidak perlu mengambil bendabenda milik temannya.

? Memberi perhatian cukup.

Si prasekolah juga masih kerap mengalami ketidakstabilan emosi. Bila ia merasa kurang mendapat perhatian dari orangtua, ia bisa saja mengambil barang milik temannya demi mendapat perhatian itu. Karena itulah, orangtua selalu disarankan untuk memberikan dukungan moril dan materi secara seimbang sehingga anak tumbuh dengan emosi yang stabil.

Pengaruh Lingkungan

Biasanya, pengaruh pergaulan negatif mencuri terjadi pada anak yang lebih dewasa, di usia sekolah misalnya. Namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak prasekolah. Misalnya, ketika ia bermain dengan temantemannya yang dengan sengaja “mencuri” mainan milik temannya yang lain. Hal ini ia lihat berulang-ulang sehingga timbul pemahaman bahwa hal itu sah-sah saja dilakukan. Nah anak bisa saja terpengaruh.

Sebaiknya selidiki kemudian jika benar kita perlu memberikan penjelasan seperti yang sudah dijabarkan di atas. Selain itu, bisa saja anak mencuri karena melihat contoh yang salah. Misalnya, ia melihat kakaknya, pengasuhnya, atau mungkin orangtuanya yang mencuri benda milik orang lain. Ketika melihat kakaknya misalnya, mengambil alat tulis temannya dan ia tidak melihat ada yang menegurnya maka anak akan meniru perbuatan tersebut.

Ia berpikir, kakaknya saja mengambil ia pun akan mengambil. Bila kejadian ini dilihatnya berulang kali maka peniruannya berpotensi lebih besar. Bukankah anak belajar dari contoh? Jadi tak heran ia akan melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di lingkungannya. Bisa juga ia “mencuri” karena kebutuhan.

Misalnya, anak sangat lapar atau haus, saat bermain ia melihat makanan/minuman di meja di rumah temannya. Karena kebutuhan inilah mendorong anak “mencuri.” Semua ini harus menjadi perhatian Mama Papa sehingga si prasekolah tahu mana perilaku yang diinginkan orangtua/ lingkungan, mana yang tidak.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *